Antara Aku Kau dan Bekas Suamimu..


Ringkasan : Saya seorang janda, dan kini telah menikah lagi, maka bagaimana saya harus bersikap saat bertemu dengan ayah dari anak-anak saya (mantan suami) yang terkadang meminta bertemu dengan anaknya?

Yang perlu difahami adalah, halalnya seorang wanita dengan seorang pria adalah terikat dengan :

  • Ikatan sebagai mahrom secara nasab
  • Terikat pernikahan

Ikatan sebagai mahrom secara nasab tidaklah bisa menjadi putus, adapun terikat pernikahan bisa saja menjadi putus.

Maka anak – anak yang terpisah lantaran perceraian, nasabnya tetap kepada ayahnya (orang tuanya), sehingga sang anak dan orang tuanya tetaplah berhak untuk saling bertemu, semisal ayah menemui anaknya / ibu menemui ayahnya.

Sekalipun telah bercerai, maka tak boleh salah satu baik ayah / ibunya membuat makar menyulut api kebencian agar si anak membenci kepada salah satunya, sekalipun si orang tua mungkin pernah mentelantarkannya. Kewajiban berbakti tetap merupakan kewajiban seorang anak kepada orang tuanya, adapun perkara ketaatan merupakan sebuah hal yang terpisah dari berbakti kepada orang tua. (pembahasan ini telah berlalu, silahkan buka-buka catatan saya)

Lalu bagaimana dengan sikap terhadap istri dan mantan istri ?
Saat perpisahan telah terjadi, maka posisi keduanya telah kembali memiliki batasan – batasan sebagaimana dulu mereka sebelum menikah.

Namun hal ini tidaklah berarti sebuah perkara yang menyulitkan, karena tetap ada solusi yang cantik didalam masalah si ayah / ibu ingin bertemu dengan anak-anaknya.

1. Diperlukan kesadaran semua pihak untuk menjalaninya, baik si istri dan suami barunya / suami dan istri barunya, serta sang mantan baik itu suami / istri termasuk suami / istrinya, yaitu sama-sama menyadari bahwa ada hak anak untuk bertemu dan bercengkrama dengan orang tua mereka, dan tidaklah boleh mereka halangi. Maka berilah pemahaman yang baik dalam hal ini.

2. Jika telah terbit kesadaran disemua pihak , maka urusan selanjutnya adalah mengatur cara-cara yang syar’i yang dibenarkan oleh agama. diantaranya adalah :
a. Sang mantan bisa bertamu bertemu anak-anaknya dirumah tempat anaknya tinggal, lalu mengajak keluar / kerumahnya sang mantan.
b. Saat bertamu, janganlah disaat tak ada pasangannya, melainkan haruslah diusahakan sepengetahuan pasangannya.
c. Tidaklah dibolehkan berduaan dengan sang mantan, sebaiknya si suami / istrinya yang menghadapi (sejenisnya wanita dengan wanita, pria dengan pria) untuk menghindarkan dari fitnah NOSTALGILAAN dan faktor CEMBURU TAK MELIHAT ALIAS BUTA. Maka dalam hal ini dituntut pula sikap kedewasaan dari pasangan, dan sikap yang salah jika sampai meninggalkannnya gara-gara mengikuti perasaan cemburu sehingga membiarkan bebas berduaan. Perasaan legowo inilah yang terkadang sulit untuk diwujudkan.
d. Janganlah memberikan uang untuk sang mantan, sekalipun dengan dalih-dalil pembenaran, karena hal itulah yang banyak memicu terjadinya pertengkaran, jika ingin memberi, maka cukuplah beri untuk hak anak, dan jika memang berniat memberi secara ikhlas maka berilah kepada pasangan sejenis, secara baik-baik bukan kepada mantan kita. Ini insya Allah lebih selamat dan menjamin kebaikan hubungan persaudaraan.
e. Jangan menerima bantuan dana / uang atau meminta dana / bantuan secara sembunyi-sembunyi dari pasangan, ataupun berkomunikasi, ini juga merupakan api dalam sekam.

Intinya adalah bisanya saling menjaga diri dan hati dari semua pihak yang terkait didalamnya.

Nah demikian apa yang bisa saya sampaikan dalam waktu yang relatif singkat ini, sangat sedikit namun semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s