Deru Debu Perjalanan Anak Manusia ..


Ada banyak sisi kehidupan manusia yang bisa kita lihat, kita baca dan kita ceritakan, baik dari pengalaman melihat, membaca, menyaksikan atau mendengarkan …

Statistik kehidupan manusia yang manakah yang tak pernah naik turun grafiknya ? Saya rasa tak ada, kalau dia mengaku dan berkata : “Ah saya mah biasa saja tuch ..” sungguh dia telah berdusta, karena Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam saja tertawa, tersenyum, sedih dan menangis.. lalu apakah dia hebat melebihi Nabi ?

Adapun perbedaan mendasar kita dengan Nabi adalah sebagaimana kandungan dari makna syahadatain, yaitu Nabi adalah manusia biasa sama persis seperti kita, yang bisa lapar, haus, menderita, sakit dan berurai air mata, namun Nabi di istimewakan dengan wahyu, sehingga setiap langkahnya, gerak geriknya telah Allah setting dan menjadi sebuah pelajaran bagi ummatnya dengan apa yang para ulama sebut sebagai sunnahnya..

Jelas berbeda sunnah makna aqidah dan sunnah makna fiqiyyah, kalau belom tahu artinya silahkan tanya ke ustadz anda..

Nabi berbicara dengan wahyu, “Dan tidaklah Nabi berkata-kata dengan hawa nafsunya melainkan dengan wahyu dari Nya ..”

Adapun kita ? Kita hanyalah seonggok daging hina yang berulang kali jatuh kedalam dosa dan kesalahan, tapi sayangnya saat memperingati orang lain bersalah kita terkesan berlebihan, bahkan seolah-olah kesalahan itu tak pernah ada didalam diri kita.. contohnya apa ? Fikir saja sendiri ya.. tanya kenapa …

Semisal kita seringkali berbicara ikhlas.. ikhlas itu bla…bla..bla..bla… namun disaat lain waktu kita terjebak kedalam perkataan : “Ah elo kalo bukan dari gue mana bisa elo begini ? Dasar lo buta baru melek… ”

Ataupun kita keras dalam hal mentahdzir orang lain yang bermaksiat, dikemudian hari kita sendiri yang terjebak, disaat itu kita saat dinasehati dan diingatkan dengan ucapan kita sendiri, kita cuma tertawa tanpa dosa : “he..he…he.. hee..”

Inilah kita manusia, makhluk yang selalu berkeinginan seperti bunyi iklan sebuah kendaraan : “SELALU TERDEPAN” , ” INOVASI TIADA HENTI” , namun disisi lain kita belum mampu mewujudkan apa yang kita tulis dan sampaikan..

Namun ada sisi yang jarang sekali disorot, yaitu :
“Biarkan kebaikan tersampaikan, sekalipun mungkin dia belum mampu melaksanakan..”
Namun ini memiliki syarat dan ketentuan yang berlaku, yaitu : Kebenarannya shohih, berasal dari al-qur’an dan sunnah ‘ala fahm salaful ummah, …

Da’wah memang tugas da’i dan ulama,namun bukan berarti kita tak boleh menyampaikan apa yang disampaikan oleh para da’i dan ulama, artinya copas yang shohih memang telah diajarkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam disaat khutbah di haji wada dengan kalimat : “…Sampaikanlah oleh kalian yang hadir kepada yang tidak hadir …”

Namun inipun memiliki etika, yaitu menyampaikan tanpa menghukumi, dengan kata lain katakalanlah :
“Ini adalah petunjuk ulama yang saya dapatkan,.. ”

Selesai tanpa anda perlu berjauh-jauh diri berpanjang kalam dan berdebat ria sedangkan kita sendiri belum mempunyai ilmu yang bisa memahaminya secara pasti.

Semisal yang namanya perintah, larangan, ini sangat terkait dengan memahami masalah ushul fiqih, diantaranya adalah :

– Jenis perintah dan larangan yang bagaimana yang sebenarnya mutlak haram dan berdosa..

– Jenis perintah dan larangan mana yang hanya masuk kedalam perkara yang tidak disukai..

– Memahami perkara khilaf yang terjadi didalamnya, ..

Ini hanya contoh sederhana, sehingga naif rasanya kita yang belajar karbitan seolah-olah lebih menguasai medan da’wah dan paling pandai, sehingga… membaca status yang tak enak hati langsung tegang, membaca tulisan yang kita “rasa” ga cocok dengan selera langsung tensi tegang, melihat sesuatu yang dirasa tak sedap dipandang langsung protes terang-terangan, ngedumel, mencaci maki, padahal kemampuan tak melebihi ujung sandal.

Dan seringkali terjadi kesalahan pemahaman , misal fatwa tentang “X” maksudnya sekedar himbauan, tapi begitu sampai dibawah sampai tahdzir-tahdziran, tanya kenapa ? sebabnya yang memahami fatwa adalah orang-orang yang tak memahami ushul, sehingga fatwa yang biasanya bersifat umum, untuk masyarakat awam, terkait suatu kondisi di suatu tempat, terkait dengan sesuatu yang terjadi di suatu keadaan digunakan secara umum dan dipaksakan untuk digunakan dengan kondisi yang berbeda, padahal fatwa itu tidak berlaku sepanjang zaman, oleh karena itu dalam memahami sebuah fatwa mestilah memahami sebab akibat munculnya fatwa tersebut.

Saya beri contoh, dibeberapa web penghujat da’wah salafiyyah, mereka habis-habisan menonjolkan fatwa syaikh Albany yang memfatwakan agar penduduk palestine keluar dari negerinya, ini mereka ekspos secara ghuluw agar menjatuhkan kredibilitas seorang ‘alim Rabbaniyyin yang berfatwa dalam suatu waqi’ (kondisi) , mereka mengejek :
– LIHAT SI ALBANY PRO YAHUDI, MENYURUH KAUM MUSLIMIN MENYERAHKAN TANAH MEREKA…
– LIHAT SI ALBANY BERFATWA SESUAI PESANAN TUANNYA SI YAHUDI…
– LIHAT SI ALBANY PENGECUT TAKUT BERPERANG…
– DLL …

Astaghfirullah, begitu memprovokasi , namun sayang tak berbobot sama sekali..

Bagi orang-orang yang memahami medan da’wah dan memiliki ilmu tentangnya ini adalah sebuah kelucuan, karena syaikh rahimahullah berfatwa setelah melihat kondisi kaum muslimin yang tertekan, kehilangan kekuatan, daripada mereka habis dibantai, maka sebaiknya mereka keluar untuk mengumpulkan kekuatan.

Bukankah nabi hijrah disaat sudah tak didapati bertahan di mekkah? APAKAH NABI PENGECUT DAN TAK PERCAYA PADA PERTOLONGAN ALLAH ?

Bukankah nabi pernah mengalah diperjanjian hudaibiyyah dengan mencantumkan nama Muhammad Bin Abdullah padahal beliau menginginkan Muhammad rasulullah ?

Inilah diantaranya .. namun sayang kebencian mereka membutakan mata hatinya .. tanpa tahu penjelasan dan latar belakangnya mereka menjustifikasi seenak perutnya .. Wal’iydazubillah ,..

Inilah sekelumit deru dan debu perjalanan manusia, semua ada porsinya.. semua ada maqomnya .. maka adillah dalam semuanya, adil disini bermakna.. tempatkanlah semua pada tempat yang selayaknya .. jangan ghuluw atas sesuatu yang sebenarnya kita belum memahami dan menguasainya .. ambillah pelajarannya :
JANGAN MENJUSTIFIKASI APA YANG KITA BELUM MENGETAHUI KEADAAN SEBENARNYA..

Selesai…

Ditulis oleh Abu Iram Al-Atsary
Di BTN Gembor Pagaden Subang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s