Mengadu Domba (Namimah)


Artikel ini terbit secara otomatis meluncur ke akun facebook saya, jika anda ingin membacanya melalui facebook anda bisa meluncur ke Page Abu Iram Al-Atsary. Tulisan-tulisan ini dan berikutnya akan terbit disaana… http://facebook.com/belajarbareng.abu.iram

NAMIMAH (MENGADU DOMBA)

Namimah adalah mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta yang menyulut api kebencian dan permusuhan antar sesama manusia.

Allah Subhanahu wata’ala mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firmanNya :
“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambar fitnah: (Al Qalam : 10-11).

Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah Radhiallahu’anhu disebutkan:
“Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba] [HR Al Bukhari, lihat Fathul Bari :10/472].

Dalam An Nihayah karya Ibnu Katsir 4/11 disebutkan : “ Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba”.

Ibnu Abbas meriwayatkan :
“(suatu hari) Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melewati sebuah kebun di antara kebun-kebun Madinah, tiba-tiba beliau mendengar dua orang yang disiksa dalam kuburnya, lalu Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : ”Keduanya disiksa, padahal tidak karena masalah yang besar (dalam anggapan keduanya) –lalu bersabda– benar (dalam sebuah riwayat disebutkan: padahal sesungguhnya ia adalah persoalan besar) seorang diantaranya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan seorang lagi (karena) suka mengadu domba” (HR Al Bukhari, Fathul Bari :1/317).

Di antara bentuk Namimah yang paling buruk adalah hasutan yang dilakukan terhadap seorang lelaki tentang istrinya atau sebaliknya, dengan maksud untuk merusak hubungan suami istri tersebut. Demikian juga adu domba yang dilakukan sebagian karyawan kepada teman karyawannya yang lain. Misalnya dengan mengadukan ucapan-ucapan kawan tersebut kepada direktur atau atasan dengan maksud untuk menfitnah dan merugikan karyawan tersebut. Semua hal ini hukumnya haram.

Selain itu juga ada sebagian santri pengajian yang kurang memiliki adab, dia bertanya pada satu ustadz lalu bertanya kepada ustadz lainnya hanya untuk mengadu-adu jawaban, bukan untuk mencari kebenaran, diantaranya dia berdalih dengan perkataan: “Ustadz fulan kok membolehkan, kenapa anda tidak ?” Nah kurang adab seperti ini bisa berujung menjadi namimah pula, adab yang baik adalah bertanya diperbolehkan kepada banyak ustadz, dalam rangka mencari jawaban yang lebih mendekati kebenaran, dan bukan dalam rangka mengadu-ngadu, diantara cirinya adalah dia bertanya tanpa harus melakukan perbuatan yang bisa menyulut namimah semisal dengan mengatakan “ustadz fulan begini dan begitu jawabannya” ..

Allahu A’lam …
–Dosa2 yang dianggap biasa dengan sedikit tambahan–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s